Sejarah Perjuangan Meraih Kemerdekaan Republik Indonesia

AvatarOleh:
 Bendera Republik Indonesia  Perjuangan Meraih Kemerdekaan Republik Indonesia Waktu masih sekolah, pelajaran yang paling saya sukai adalah sejarah, dan dari antara berbagai tema yang ada, “Kolonialisme” adalah tema yang sangat menarik untuk dipelajari. Bagaimana tidak? mempelajari relasi antara “Indonesia” dengan mantannya “Belanda” (yang sama sekali tidak indah), tentu sangatlah menarik. Saat membaca kisah-kisah dalam buku sejarah, khususnya yang bertemakan “kolonialisme”, kita bisa melihat bagaimana “Hindia Belanda” (“Indonesia” sebelum merdeka), mendapat tempat yang begitu berharga.   Sampai-sampai orang di Belanda punya perkataan Sialnya bagi Belanda perkataan itu benar-benar menjadi kenyataan, bahkan lebih buruk dari apa yang mereka bayangkan. Ketika PD2 terjadi, negeri Belanda jatuh ke tangan Jerman Nazi (1940), sedangkan Hindia, jajahannya yang “paling berharga”, jatuh ke tangan Kekaisaran Jepang (1942).   Setelah kejadian itu, mungkin banyak kalangan nasionalis di Indonesia yang tertawa, jika mengingat perkataan dari Gubernur Jendral Hindia Belanda de Jonge, yang menyatakan bila perlu dengan pedang & pentung Tahun 1945, negeri Belanda yang awalnya dijajah oleh Jerman NAZI, berhasil dibebaskan oleh sekutu. Bukannya berkonsentrasi untuk membangun negaranya kembali, Belanda justru mewajib-militerkan warga-warganya, untuk dikirimkan ke Hindia Belanda. Sebuah tekad yang menunjukkan bagaimana Belanda menganggap “Hindia” begitu “berharga” (terlebih jika dibandingkan dengan para koruptor). Oleh karenanya, mereka berusaha sebisa mungkin untuk menguasai Hindia kembali, “bila perlu dengan pedang & pentung”. Bagaimana kisahnya? Ingin tahu? Terjebak dalam 2 front yang berbeda, Jerman Nazi semakin kehilangan kekuatannya.   Satu per satu dari negara Eropa yang berhasil dikuasainya mulai terlepas, termasuk Kerajaan Belanda. Setelah Jerman menyerah, Belanda mulai mengalihkan perhatiannya ke daerah jajahannya (Hindia). Pemikiran seperti ini sebenarnya tidak mengherankan, karena sekutu telah mencapai kesepakatan, dimana setiap koloni Eropa, yang berhasil direbut oleh Kekaisaran Jepang, akan dikembalikan ke pemilik awalnya masing-masing.   Menyerahnya Jepang dalam Perang Dunia 2, membuat pasukan sekutu berkonsentrasi untuk mengamankan wilayahnya. Wilayah Malaysia, Singapura, Brunei, dsb, kembali dikuasai oleh Inggris, sedangkan wilayah Filipina kembali dikuasai oleh Amerika Serikat. Pada dasarnya, Belanda juga ingin melakukan hal yang sama, namun hal itu terhalang oleh jumlah pasukannya yang sangat sedikit. Hal ini terjadi, karena banyak tentaranya masih ditahan dalam kamp tawanan Jepang di Hindia.   Dalam buku Jendral Spoor yang diterbitkan oleh Kompas, Sekutu sebenarnya sempat menanyakan kondisi Hindia kepada Belanda. Belanda dengan yakin menjawabnya, bahwa kedatangan mereka akan disambut secara hangat oleh masyarakat di Hindia. Oleh karenanya, pasukan sekutu bersama dengan organisasi “NICA”, mulai pergi menuju ke Hindia. Namun di luar dugaan, kondisi Hindia ternyata jauh dari kata “kondusif”, terlebih jika dibandingkan dengan apa yang para petinggi Belanda sering sampaikan.   Mereka justru sering menjumpai kelompok bersenjata kaum Republik, yang menunjukkan sikapnya seperti anti imperialisme & kaum penjajah. Di berbagai tempat seperti Surabaya sempat terjadi pertempuran besar, dikemudian hari akan dikenang sebagai "Hari Pahlawan" di Indonesia Bagi pasukan sekutu (Inggris), kejadian seperti ini tentu sangat disayangkan, mereka tidak menyangka bahwa salah satu perwiranya Brigjen Mallaby, harus menjadi salah satu korbannya. Sekalipun Inggris berhasil memukul mundur para pejuang, mereka tentu berpikir, “Mengapa harus berjuang & berkorban, melawan pasukan “Bentukan Jepang” (seperti PETA, dkk) di wilayah yang sebenarnya bukan koloni mereka?” Hal ini jauh berbeda dengan kedatangan pasukan sekutu ke “bekas-bekas” wilayah jajahan lainnya, yang berlangsung dengan relatif aman.   Sekalipun menghadapi beragam kesulitan, pasukan sekutu (khususnya Inggris) tetap berdatangan ke Hindia, untuk mengamankan berbagai wilayah jajahan Belanda, serta membebaskan tahanan-tahanan yang ditahan oleh Jepang di Hindia. Setelah menghadapi berbagai perlawanan dari kaum Republik (Indonesia), para perwira militer Inggris akhirnya memutuskan untuk bersikap lebih pasif.   Hal ini dilakukan untuk menghindari konflik lebih lanjut, karena Inggris tidak ingin militernya kembali menjadi korban ditengah konflik antara Belanda & Indonesia. Pasukan Inggris ingin secepatnya pergi dari Hindia, dan mengurusi wilayah jajahan mereka sendiri. Pada saat itu, seorang perwira Belanda bernama Spoor, yang menjabat sebagai Direktur Dinas Intelijen Hindia Belanda (NEFIS) datang ke Hindia.   Ia adalah petinggi militer yang baik & dipercaya oleh Belanda. Dikemudian hari, ia akan menjadi panglima tertinggi dari tentara Belanda di Hindia, sekaligus rival utama dari Jendral Besar Sudirman. Sebagai seorang perwira militer, Spoor melihat militer “kolonial” sudah begitu lemah, dan kondisi Hindia semakin tidak kondusif bagi Belanda.   Ia juga melihat bagaimana militer Inggris tidak dapat diandalkan, untuk mentertibkan & mengembalikan Hindia kepada Belanda. Baginya, Belanda harus memiliki kekuatan militernya sendiri, agar dapat “mentertibkan” koloninya yang paling berharga itu. Spoor mulai memikirkan berbagai cara, untuk memperoleh & meningkatkan jumlah personil militer, khususnya setelah mendengar bahwa militer Inggris akan segera pergi dari Hindia (yang sebenarnya juga diinginkannya). Ia terus meminta agar pemerintah pusat di Belanda, dapat melatih & mengirimkan “seluruh” personil & peralatan, yang bisa mereka kirimkan ke Hindia secepat mungkin.   Permintaan Spoor mendapat respon positif dari Belanda, pada bulan Maret 1946, mereka telah mendatangkan sekitar 15.000 personil militer ke Hindia, yang jumlahnya terus meningkat seiring berjalannya waktu.   Pasukan-pasukan inilah yang akan segera menggantikan militer sekutu (Inggris), dalam mengamankan wilayah jajahan Belanda, di Hindia. Mereka jugalah yang dikemudian hari, akan berhadapan dengan para pejuang kemerdekaan Indonesia. Seperti apakah perbandingan kekuatan dari kedua pihak? Apakah Indonesia yang lebih kuat? Atau Belanda yang lebih kuat?   Sejarah Kemerdekaan Republik Indonesia  Story Dalam sejarah Indonesia, dikatakan bahwa Indonesia merdeka pada Tanggal 17 Agustus 1945 Pendapat tersebut memanglah tidak salah Karena pada waktu tersebut terjadi peristiwa yang sangat penting bagi rakyat Indonesia Yakni dibacakannya teks Proklamasi Oleh presiden pertama Republik Indonesia Yakni Ir. Soekarno Yang disaksikan langsung oleh rakyat Indonesia Namun pernyataan kemerdekaan yang diutarakan Oleh Soekarno pada waktu itu Tidak disetujui oleh Belanda Yang memang dari awal negara tersebut Ingin menjadikan Indonesia sebagai negara jajahannya kembali Setelah jepang kalah dalam perang Asia timur raya.  baru beberapa hari rakyat Indonesia menikmati kemerdekaan, penjajah dari Barat datang kembali Belanda yang kali ini bernama Nederlands Indies Civil Administration (NICA), membonceng sekutu selaku pemenang perang Pada tanggal 23 Agustus 1945, pasukan sekutu dan NICA mendarat di Sabang Aceh selanjutnya mereka tiba di Jakarta pada tanggal 15 September 1945 selain membantu sekutu untuk melucuti tentara jepang yang masih tersisa NICA dibawah pimpinan Van Mook atas perintah kerajaan Belanda Membawa kepentingan lain, yakni menjalankan pidato Ratu Welhelmina Terkait Staat Kundige Consep (konsepsi kenegaraan) di Indonesia.   Isi dari pidato tersebut adalah, di kemudian hari akan dibentuk sebuah persemakmuran antara kerajaan Belanda dengan Hindia Belanda (Indonesia), di bawah naungan kerajaan Belanda namun hal tersebut tidak dapat direalisasikan karena respon rakyat Indonesia tidak seperti yang dibayangkan Indonesia pada waktu itu, sudah menjadi negara yang berdaulat, mempunyai tatanan pemerintahan serta didukung oleh puluhan jutaan rakyatnya yang siap mengorbankan jiwa dan raganya Demi mempertahankan kemerdekaan atas permasalahan tersebut.   dilakukan sebuah perjanjian yang dinamakan perjanjian "Linggar Jati" isi dari perjanjian tersebut ialah 1. Belanda mengakui Jawa dan Madura sebagai Wilayah dari republik Indonesia secara De Facto 2. Belanda meninggalkan wilayah Republik Indonesia paling lambat 1 januari 1949 3. Belanda dan Indonesia sepakat membentuk Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) 4. Republik Indonesia Serikat menjadi negara peremakmuran di bawah naungan kerajaan Belanda isi dari perjanjian tersebut tentu saja merugikan Indonesia karena pada akhirnya Indonesia tetap saja menjadi bawahan belanda.   namun pemerintah Indonesia pada waktu itu terpaksa sepakat, karena jalan damai adalah pilihan utama serta belum cukup kuat angkatan perang yang dimiliki Indonesia di sisi lain, Van Mook, tetap tidak rela kehilangan wilayah jajahanya yang dulu menghidupi belanda selama berabad-abad iapun mempersiapkan serangan serentak untuk menduduki wilayah-wilayah vital hingga akhirnya pada 15 July 1947, Van Mook mengeluarkan Ultimatum Agar Republik Indonesia menarik mundur pasukannya, sejauh 10 KM, dari Wilayah Demarkasi yang telah disepakati.   Mendengar ultimatum tersebut, tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Pemerintah Indonesia akhirnya Van Mook pun marah, pada tanggal 10 juli 1947 ia menyatakan dalam siaran radio, bahwa Belanda tidak terikat lagi dengan perjanjian Linggar Jati kurang dari 24 jam setelah itu, Agresi Militer Belanda 1 dimulai atas tindakan Belanda tersebut, Pemerintah Indonesia, melaporkan agresi tersebut kepada PBB bahwa Belanda telah melanggar perjanjian Linggar Jati PBB, langsung merespon dengan mengeluarkan resolusi.   pada 1 Agustus 1947 yang isinya agar konflik tersebut segara dihentikan atas desakan PBB tersebut, akhirnya membuat Belanda ciut pada tanggal 15 Agustus 1947, belanda menyatakan akan menerima resolusi PBB untuk menghentikan agresi tersebut setelah peristiwa terebut terjadi perundingan kedua antara Indonesia dan Belanda yang disebut perjanjian "Renville".   perjanjian Renville ialah perjanjian antara Indonesia dengan Belanda yang ditandatangani pada 17 Januari 1948 diatas sebuah kapal perang Amerika serikat yang menjadi tempat netral USS Renville isi dari perjanjian Renville tersebut ialah 1. Belanda hanya mengakui Jawa Tengah, Yogyakarta dan Sumatra sebagai wilayah dari Republik Indonesia 2. Disetujuinya garis Demarkasi yang memisahkan wilayah Indonesia dengan wilayah kependudukan Belanda 3. TNI harus ditarik mundur dari daerah kantongnya di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur atas hasil perjanjian tersebut banyak rakyat yang kecewa, karena Indonesia justru semakin dirugikan dibandingkan dengan perjanjian sebelumnya yaitu perjanjian Linggar Jati.   perjanjian Renville membuat wilayah Indonesia semakin kecil serta menjadi terpisah-pisah akhirnya banyak perlawanan yang dilakukan oleh rakyat Indonesia atas ketidak setujuan mereka dengan perjanjian Renville tersebut di sisi lain pihak Belanda yang sudah diuntungkan banyak dari perjanjian Renville tetap ngotot, untuk menguasai wilayah Indonesia secara penuh merekapun kembali mengingkari perjanjian Renville dengan melakukan agresi militernya yang kedua Agresi militer yang dilakukan oleh Belanda yang kedua, disambut dengan perlawanan oleh rakyat Indonesia.   pertempuran hebat pun terjadi, di beberapa daerah hingga puncaknya pada pertempuran 1 Maret 1949 di Yogyakarta propaganda yang dilakukan oleh Belanda atas agresi militernya yang kedua ialah ingin membuktikan kepada dunia bahwa negara Republik Indonesia itu tidak ada dan mereka itu lemah akan tetapi mendengar propaganda Belanda tersebut membuat rakyat Indonesia semakin marah dan akhirnya bisa membuktikan kepada Dunia bahwa negara Republik Indonesia masih ada dan kuat.   melihat konfrontasi kedua belah pihak yang semakin besar dan parah dibuatlah perjanjian ketiga yang dinamakan perjanjian "Roam Royyen" isi dari perjanjian tersebut adalah 1. angkatan bersenjata Indonesia akan menghentikan semua aktivitas geriilyanya 2. Pemerintah RI akan menghadiri Konferensi Meja Bundar (KMB) 3. Pemerintah RI dikembalikan ke Yogyakarta 4. Angkatan bersenjata Belanda akan menghentikan semua operasi militernya dan membebaskan semua tahanan perang.   setelah itu diadakanlah perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) yang dilaksanakan di Den Hag Belanda dan pada perjanjian tersebut akhirnya Belanda mengakui sepenuhnya kedaulatan RI yang ditanda tangani pada 29 Desember 1949 baru setelah peristiwa tersebut Indonesia benar-benar merdeka baik secara De Facto dan De Jure meskipun cobaan yang dialami Indonesia setelah terbebas dari penjajahan datang silih berganti menghantam ibu pertiwi.   Itulah Sejarah Perjuangan Meraih Kemerdekaan Republik Indonesia
Bendera Republik Indonesia


Perjuangan Meraih Kemerdekaan Republik Indonesia

Waktu masih sekolah, pelajaran yang paling saya sukai adalah sejarah, dan dari antara berbagai tema yang ada, “Kolonialisme” adalah tema yang sangat menarik untuk dipelajari. Bagaimana tidak? mempelajari relasi antara “Indonesia” dengan mantannya “Belanda” (yang sama sekali tidak indah), tentu sangatlah menarik. Saat membaca kisah-kisah dalam buku sejarah, khususnya yang bertemakan “kolonialisme”, kita bisa melihat bagaimana “Hindia Belanda” (“Indonesia” sebelum merdeka), mendapat tempat yang begitu berharga.

Sampai-sampai orang di Belanda punya perkataan Sialnya bagi Belanda perkataan itu benar-benar menjadi kenyataan, bahkan lebih buruk dari apa yang mereka bayangkan. Ketika PD2 terjadi, negeri Belanda jatuh ke tangan Jerman Nazi (1940), sedangkan Hindia, jajahannya yang “paling berharga”, jatuh ke tangan Kekaisaran Jepang (1942).

Setelah kejadian itu, mungkin banyak kalangan nasionalis di Indonesia yang tertawa, jika mengingat perkataan dari Gubernur Jendral Hindia Belanda de Jonge, yang menyatakan bila perlu dengan pedang & pentung Tahun 1945, negeri Belanda yang awalnya dijajah oleh Jerman NAZI, berhasil dibebaskan oleh sekutu. Bukannya berkonsentrasi untuk membangun negaranya kembali, Belanda justru mewajib-militerkan warga-warganya, untuk dikirimkan ke Hindia Belanda. Sebuah tekad yang menunjukkan bagaimana Belanda menganggap “Hindia” begitu “berharga” (terlebih jika dibandingkan dengan para koruptor). Oleh karenanya, mereka berusaha sebisa mungkin untuk menguasai Hindia kembali, “bila perlu dengan pedang & pentung”. Bagaimana kisahnya? Ingin tahu? Terjebak dalam 2 front yang berbeda, Jerman Nazi semakin kehilangan kekuatannya.

Satu per satu dari negara Eropa yang berhasil dikuasainya mulai terlepas, termasuk Kerajaan Belanda. Setelah Jerman menyerah, Belanda mulai mengalihkan perhatiannya ke daerah jajahannya (Hindia). Pemikiran seperti ini sebenarnya tidak mengherankan, karena sekutu telah mencapai kesepakatan, dimana setiap koloni Eropa, yang berhasil direbut oleh Kekaisaran Jepang, akan dikembalikan ke pemilik awalnya masing-masing.

Menyerahnya Jepang dalam Perang Dunia 2, membuat pasukan sekutu berkonsentrasi untuk mengamankan wilayahnya. Wilayah Malaysia, Singapura, Brunei, dsb, kembali dikuasai oleh Inggris, sedangkan wilayah Filipina kembali dikuasai oleh Amerika Serikat. Pada dasarnya, Belanda juga ingin melakukan hal yang sama, namun hal itu terhalang oleh jumlah pasukannya yang sangat sedikit. Hal ini terjadi, karena banyak tentaranya masih ditahan dalam kamp tawanan Jepang di Hindia.

Dalam buku Jendral Spoor yang diterbitkan oleh Kompas, Sekutu sebenarnya sempat menanyakan kondisi Hindia kepada Belanda. Belanda dengan yakin menjawabnya, bahwa kedatangan mereka akan disambut secara hangat oleh masyarakat di Hindia. Oleh karenanya, pasukan sekutu bersama dengan organisasi “NICA”, mulai pergi menuju ke Hindia. Namun di luar dugaan, kondisi Hindia ternyata jauh dari kata “kondusif”, terlebih jika dibandingkan dengan apa yang para petinggi Belanda sering sampaikan.

Mereka justru sering menjumpai kelompok bersenjata kaum Republik, yang menunjukkan sikapnya seperti anti imperialisme & kaum penjajah. Di berbagai tempat seperti Surabaya sempat terjadi pertempuran besar, dikemudian hari akan dikenang sebagai "Hari Pahlawan" di Indonesia Bagi pasukan sekutu (Inggris), kejadian seperti ini tentu sangat disayangkan, mereka tidak menyangka bahwa salah satu perwiranya Brigjen Mallaby, harus menjadi salah satu korbannya. Sekalipun Inggris berhasil memukul mundur para pejuang, mereka tentu berpikir, “Mengapa harus berjuang & berkorban, melawan pasukan “Bentukan Jepang” (seperti PETA, dkk) di wilayah yang sebenarnya bukan koloni mereka?” Hal ini jauh berbeda dengan kedatangan pasukan sekutu ke “bekas-bekas” wilayah jajahan lainnya, yang berlangsung dengan relatif aman.

Sekalipun menghadapi beragam kesulitan, pasukan sekutu (khususnya Inggris) tetap berdatangan ke Hindia, untuk mengamankan berbagai wilayah jajahan Belanda, serta membebaskan tahanan-tahanan yang ditahan oleh Jepang di Hindia. Setelah menghadapi berbagai perlawanan dari kaum Republik (Indonesia), para perwira militer Inggris akhirnya memutuskan untuk bersikap lebih pasif.

Hal ini dilakukan untuk menghindari konflik lebih lanjut, karena Inggris tidak ingin militernya kembali menjadi korban ditengah konflik antara Belanda & Indonesia. Pasukan Inggris ingin secepatnya pergi dari Hindia, dan mengurusi wilayah jajahan mereka sendiri. Pada saat itu, seorang perwira Belanda bernama Spoor, yang menjabat sebagai Direktur Dinas Intelijen Hindia Belanda (NEFIS) datang ke Hindia.

Ia adalah petinggi militer yang baik & dipercaya oleh Belanda. Dikemudian hari, ia akan menjadi panglima tertinggi dari tentara Belanda di Hindia, sekaligus rival utama dari Jendral Besar Sudirman. Sebagai seorang perwira militer, Spoor melihat militer “kolonial” sudah begitu lemah, dan kondisi Hindia semakin tidak kondusif bagi Belanda.

Ia juga melihat bagaimana militer Inggris tidak dapat diandalkan, untuk mentertibkan & mengembalikan Hindia kepada Belanda. Baginya, Belanda harus memiliki kekuatan militernya sendiri, agar dapat “mentertibkan” koloninya yang paling berharga itu. Spoor mulai memikirkan berbagai cara, untuk memperoleh & meningkatkan jumlah personil militer, khususnya setelah mendengar bahwa militer Inggris akan segera pergi dari Hindia (yang sebenarnya juga diinginkannya). Ia terus meminta agar pemerintah pusat di Belanda, dapat melatih & mengirimkan “seluruh” personil & peralatan, yang bisa mereka kirimkan ke Hindia secepat mungkin.

Permintaan Spoor mendapat respon positif dari Belanda, pada bulan Maret 1946, mereka telah mendatangkan sekitar 15.000 personil militer ke Hindia, yang jumlahnya terus meningkat seiring berjalannya waktu.

Pasukan-pasukan inilah yang akan segera menggantikan militer sekutu (Inggris), dalam mengamankan wilayah jajahan Belanda, di Hindia. Mereka jugalah yang dikemudian hari, akan berhadapan dengan para pejuang kemerdekaan Indonesia. Seperti apakah perbandingan kekuatan dari kedua pihak? Apakah Indonesia yang lebih kuat? Atau Belanda yang lebih kuat?

Sejarah Kemerdekaan Republik Indonesia


Story Dalam sejarah Indonesia, dikatakan bahwa Indonesia merdeka pada Tanggal 17 Agustus 1945 Pendapat tersebut memanglah tidak salah Karena pada waktu tersebut terjadi peristiwa yang sangat penting bagi rakyat Indonesia Yakni dibacakannya teks Proklamasi Oleh presiden pertama Republik Indonesia Yakni Ir. Soekarno Yang disaksikan langsung oleh rakyat Indonesia Namun pernyataan kemerdekaan yang diutarakan Oleh Soekarno pada waktu itu Tidak disetujui oleh Belanda Yang memang dari awal negara tersebut Ingin menjadikan Indonesia sebagai negara jajahannya kembali Setelah jepang kalah dalam perang Asia timur raya.

baru beberapa hari rakyat Indonesia menikmati kemerdekaan, penjajah dari Barat datang kembali Belanda yang kali ini bernama Nederlands Indies Civil Administration (NICA), membonceng sekutu selaku pemenang perang Pada tanggal 23 Agustus 1945, pasukan sekutu dan NICA mendarat di Sabang Aceh selanjutnya mereka tiba di Jakarta pada tanggal 15 September 1945 selain membantu sekutu untuk melucuti tentara jepang yang masih tersisa NICA dibawah pimpinan Van Mook atas perintah kerajaan Belanda Membawa kepentingan lain, yakni menjalankan pidato Ratu Welhelmina Terkait Staat Kundige Consep (konsepsi kenegaraan) di Indonesia.

Isi dari pidato tersebut adalah, di kemudian hari akan dibentuk sebuah persemakmuran antara kerajaan Belanda dengan Hindia Belanda (Indonesia), di bawah naungan kerajaan Belanda namun hal tersebut tidak dapat direalisasikan karena respon rakyat Indonesia tidak seperti yang dibayangkan Indonesia pada waktu itu, sudah menjadi negara yang berdaulat, mempunyai tatanan pemerintahan serta didukung oleh puluhan jutaan rakyatnya yang siap mengorbankan jiwa dan raganya Demi mempertahankan kemerdekaan atas permasalahan tersebut.

dilakukan sebuah perjanjian yang dinamakan perjanjian "Linggar Jati" isi dari perjanjian tersebut ialah 1. Belanda mengakui Jawa dan Madura sebagai Wilayah dari republik Indonesia secara De Facto 2. Belanda meninggalkan wilayah Republik Indonesia paling lambat 1 januari 1949 3. Belanda dan Indonesia sepakat membentuk Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) 4. Republik Indonesia Serikat menjadi negara peremakmuran di bawah naungan kerajaan Belanda isi dari perjanjian tersebut tentu saja merugikan Indonesia karena pada akhirnya Indonesia tetap saja menjadi bawahan belanda.

namun pemerintah Indonesia pada waktu itu terpaksa sepakat, karena jalan damai adalah pilihan utama serta belum cukup kuat angkatan perang yang dimiliki Indonesia di sisi lain, Van Mook, tetap tidak rela kehilangan wilayah jajahanya yang dulu menghidupi belanda selama berabad-abad iapun mempersiapkan serangan serentak untuk menduduki wilayah-wilayah vital hingga akhirnya pada 15 July 1947, Van Mook mengeluarkan Ultimatum Agar Republik Indonesia menarik mundur pasukannya, sejauh 10 KM, dari Wilayah Demarkasi yang telah disepakati.

Mendengar ultimatum tersebut, tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Pemerintah Indonesia akhirnya Van Mook pun marah, pada tanggal 10 juli 1947 ia menyatakan dalam siaran radio, bahwa Belanda tidak terikat lagi dengan perjanjian Linggar Jati kurang dari 24 jam setelah itu, Agresi Militer Belanda 1 dimulai atas tindakan Belanda tersebut, Pemerintah Indonesia, melaporkan agresi tersebut kepada PBB bahwa Belanda telah melanggar perjanjian Linggar Jati PBB, langsung merespon dengan mengeluarkan resolusi.

pada 1 Agustus 1947 yang isinya agar konflik tersebut segara dihentikan atas desakan PBB tersebut, akhirnya membuat Belanda ciut pada tanggal 15 Agustus 1947, belanda menyatakan akan menerima resolusi PBB untuk menghentikan agresi tersebut setelah peristiwa terebut terjadi perundingan kedua antara Indonesia dan Belanda yang disebut perjanjian "Renville".

perjanjian Renville ialah perjanjian antara Indonesia dengan Belanda yang ditandatangani pada 17 Januari 1948 diatas sebuah kapal perang Amerika serikat yang menjadi tempat netral USS Renville isi dari perjanjian Renville tersebut ialah 1. Belanda hanya mengakui Jawa Tengah, Yogyakarta dan Sumatra sebagai wilayah dari Republik Indonesia 2. Disetujuinya garis Demarkasi yang memisahkan wilayah Indonesia dengan wilayah kependudukan Belanda 3. TNI harus ditarik mundur dari daerah kantongnya di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur atas hasil perjanjian tersebut banyak rakyat yang kecewa, karena Indonesia justru semakin dirugikan dibandingkan dengan perjanjian sebelumnya yaitu perjanjian Linggar Jati.

perjanjian Renville membuat wilayah Indonesia semakin kecil serta menjadi terpisah-pisah akhirnya banyak perlawanan yang dilakukan oleh rakyat Indonesia atas ketidak setujuan mereka dengan perjanjian Renville tersebut di sisi lain pihak Belanda yang sudah diuntungkan banyak dari perjanjian Renville tetap ngotot, untuk menguasai wilayah Indonesia secara penuh merekapun kembali mengingkari perjanjian Renville dengan melakukan agresi militernya yang kedua Agresi militer yang dilakukan oleh Belanda yang kedua, disambut dengan perlawanan oleh rakyat Indonesia.

pertempuran hebat pun terjadi, di beberapa daerah hingga puncaknya pada pertempuran 1 Maret 1949 di Yogyakarta propaganda yang dilakukan oleh Belanda atas agresi militernya yang kedua ialah ingin membuktikan kepada dunia bahwa negara Republik Indonesia itu tidak ada dan mereka itu lemah akan tetapi mendengar propaganda Belanda tersebut membuat rakyat Indonesia semakin marah dan akhirnya bisa membuktikan kepada Dunia bahwa negara Republik Indonesia masih ada dan kuat.

melihat konfrontasi kedua belah pihak yang semakin besar dan parah dibuatlah perjanjian ketiga yang dinamakan perjanjian "Roam Royyen" isi dari perjanjian tersebut adalah 1. angkatan bersenjata Indonesia akan menghentikan semua aktivitas geriilyanya 2. Pemerintah RI akan menghadiri Konferensi Meja Bundar (KMB) 3. Pemerintah RI dikembalikan ke Yogyakarta 4. Angkatan bersenjata Belanda akan menghentikan semua operasi militernya dan membebaskan semua tahanan perang.

setelah itu diadakanlah perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) yang dilaksanakan di Den Hag Belanda dan pada perjanjian tersebut akhirnya Belanda mengakui sepenuhnya kedaulatan RI yang ditanda tangani pada 29 Desember 1949 baru setelah peristiwa tersebut Indonesia benar-benar merdeka baik secara De Facto dan De Jure meskipun cobaan yang dialami Indonesia setelah terbebas dari penjajahan datang silih berganti menghantam ibu pertiwi.

Itulah Sejarah Perjuangan Meraih Kemerdekaan Republik Indonesia
Sejarah Perjuangan Meraih Kemerdekaan Republik Indonesia
kembali ke atas